Sejarah Perang SALIB
Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen dan Islam, yang penengertian umum saat ini.
Berkut adalah Riwayatnya:
Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerusalem dan tanah suci Kristen dari Muslim. Apa yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukan keseluruhan wilayah di luar Eropa.
Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menangkap kota tersebut pada Juli 1099, mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.
Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah di dunia. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.
Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.
Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriark Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.
Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan Konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan kotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." Ia berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."
"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para ksatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.
Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.
Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Bible, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di api penyucian.
Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timur dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.
Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".
Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.
Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.
Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif.
1. Perang Salib Rakyat.
Perang Salib Rakyat adalah bagian dari Perang Salib pertama dan berakhir kira-kira enam bulan dari April 1096 sampai Oktober. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Salib Populer.
2.Perang Salib Jerman.
Perang Salib Jerman 1096 adalah bagian dari Perang Salib pertama di mana tentara perang salib rakyat, kebanyakan dari Jerman, tidak menyerang Muslim namun orang Yahudi. Meskipun anti-semitisme telah ada di Eropa selama berabad-abad, ini merupakan pogrom massal pertama yang terorganisasi. Dalam beberapa kasus, otoritas dan pemimpin keagamaan berusaha melindungi orang Yahudi.
3.
Perang Salib 1101 adalah sebuah perang salib dari 3 gerakan yang terpisah, diatur tahun 1100 dan 1101 setelah kesuksesan Perang Salib Pertama.
Perang Salib Pertama yang berhasil menyarankan panggilan bantuan dari Kerajaan Yerusalem yang baru dibentuk, dan Paus Paschal II mendorong adanya ekspedisi baru. Ia terutama mendorong yang telah melakukan janji perang salib namun tidak pernah berangkat, dan yang telah memutar balik selama perjalanan. Beberapa orang ini telah menerima caci maki di rumahnya dan menghadapi tekanan agar kembali ke timur; Adela dari Blois, istri Stephen, Raja Blois, yang telah melarikan diri dari Pertempuran Antiokhia tahun 1098, juga sangat kecewa dengan suaminya bahwa dia tidak akan mempersilahkannya tinggal di rumah.
4.
Perang Salib Kedua
Perang Salib Kedua (berlangsung dari sekitar tahun 1145 hingga tahun 1149) adalah Perang Salib kedua yang dilancarkan dari Eropa, yang dilaksanakan karena jatuhnya Kerajaan Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara-negara Tentara Salib yang didirikan pertama kali selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga yang pertama jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, yaitu Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyebrangi Eropa secara terpisah melewati Eropa dan agak terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh orang Seljuk. Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melakukan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur gagal dan merupakan kemenangan besar bagi orang Muslim. Kegagalan ini menyebabkan jatuhnya Kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.
Serangan-serangan yang berhasil hanya terjadi di luar laut Tengah. Bangsa Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman, melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan kapal. Mereka berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal, membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan dipersilahkan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan, tempat mereka mendapatkan keturunan. Sementara itu, di Eropa Timur, Perang Salib Utara dimulai dengan usaha untuk merubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beragama Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.
Latar belakang
Setelah terjadinya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan Kerajaan Edessa. Kerajaan Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil; oleh sebab itu, daerah ini sering diserang oleh negara Muslim yang dikuasai oleh Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin dibunuh dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, dipaksa untuk bersekutu dengan kekaisaran Bizantium, namun, pada tahun 1143, baik kaisar kekaisaran Bizantium, John II Comnenus dan raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga bertengkar dengan Raja Tripoli dan Pangeran Antiokhia, yang menyebabkan Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat.
Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi dan raja Baldwin II mengubah perhatian mereka ke arah Damaskus; Baldwin dapat ditaklukan di luar kota pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, nantinya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140; aliansi dinegosiasikan oleh penulis kronik Usamah ibn Munqidh.
Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid Kara Aslan melawan Aleppo. Zengi, yang ingin mengambil keuntungan dalam kematian Fulk pada tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim ke Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri memuji Islam sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang telah ditakuti; peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengamati Damaskus. Namun, ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.
Reaksi dari barat
Berita jatuhnya Edessa diberitakan oleh para peziarah pada awal tahun 1145, lalu kemudian oleh duta besar dari Antiokhia, Yerusalem dan Armenia. Uskup Hugh dari Jabala melaporkan berita ini kepada Paus Eugenius III, yang menerbitkan papal bull Quantum praedecessores pada tanggal 1 Desember 1145, yang memerintahkan dilaksanakannya Perang Salib Kedua. Hugh juga memberitahu Paus bahwa seorang raja Kristen timur diharapkan akan memberi pertolongan kepada negara-negara tentara salib: ini merupakan penyebutan Prester John yang pertama kali didokumentasikan. Eugenius tidak menguasai Roma dan tinggal di Viterbo, namun demikian, perang salib diartikan untuk lebih mengatur dan menguasai daripada Perang Salib Pertama: beberapa pendeta akan diterima oleh paus, angkatan bersenjata akan dipimpin oleh raja-raja terkuat dari Eropa, dan rute penyerangan akan direncanakan. Tanggapan terhadap papal bull perang salib sedikit, dan harus dikeluarkan kembali saat Louis VII akan mengambil bagian dalam ekspedisi. Louis VII dari Perancis juga telah memikirkan ekspedisi baru tanpa campur tangan Paus, di mana ia mengumumkan kepada istanannya di Bourges pada tahun 1145. Hal ini diperdebatkan saat Louis merencanakan perang salibnya sendiri, saat ia hendak memenuhi janjinya kepada saudaranya, Phillip, bahwa ia akan pergi ke Tanah Suci, di mana ia akhirnya dihentikan oleh kematian. Mungkin Louis memilih pilihannya dengan bebas dengan mendengar tentang Quantum Praedecessores. Dalam beberapa hal, Kepala Biara Suger dan bangsawan lainnya tidak senang dengan rencana Louis, di mana ia akan pergi dari kerajaan selama beberapa tahun. Louis berkonsultasi dengan Bernard dari Clairvaux, yang menyuruhnya menemui kembali ke Eugenius. Kini Louis telah mendengar tentang papal bull, dan Eugenius dengan penuh semangat mendukung perang salib Louis. Papal Bull dikeluarkan kembali pada tanggal 1 Maret 1146, dan Paus Eugenius memberikan kekuasaan kepada Bernard untuk berceramah di Perancis.
Bernard dari Clairvaux berkhotbah kepada Tentara Salib
Tidak terdapat antusias populer untuk perang salib sebagaimana telah ada tahun 1095 sampai tahun 1096. Namun, St. Bernard, salah satu orang terkenal diantara umat nasrani pada saat itu, menemukan jalan bijaksana untuk mengambil salib sebagai arti mendapat pengampunan dari dosa dan mencapai keagungan. Pada 31 Maret, dengan persembahan Louis, dia menasehati keramaian di lapangan di Vézelay. Bernard berorasi, dan orang-orang naik dan berteriak "Salib, berikan kami salib!", dan mereka pergi untuk membuat salib. Tidak seperti perang salib pertama, perang salib kedua menarik perhatian keluarga rajam seperti Eleanor dari Aquitaine, Ratu Perancis, Thierry dari Elsas, Graf Flander, Henry, yang nantinya akan menjadi graf Champagne, saudara Louis Robert I dari Dreux, Alphonse I dari Tolosa, William II dari Nevers, William de Warenne, pangeran ketiga Surrey, Hugh VII dari Lusignan, dan bangsawan dan uskup lainnya. Tapi bantuan lebih banyak muncul dari orang-orang. St. Bernard menulis kepada uskup beberapa hari kemudian: "Saya buka mulut saya, saya berbicara, dan dan akhirnya Tentara Salib berjumlah menjadi tak terbatas. Desa dan Kota sekarang ditinggalkan. Anda akan baru saja menemukan 1 laki-laki untuk 7 wanita. Dimana-mana anda akan melihat janda yang suaminya masih hidup".
Akhirnya disetujui bahwa tentara salib akan berangkat dalam 1 tahun, selama waktu ini mereka akan membuat persiapan dan membuat jalur menuju tanah suci. Louis dan Eugenius menerima bantuan dari pemimpin-pemimpin dimana daerah mereka akan dilewati: Geza dari Hongaria, Roger II dari Sisilia, dan kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus, meskipun Manuel ingin tentara salib untuk bersumpah kesetiaannya kepadanya, seperti yang diminta Kakeknya, Alexius I Comnenus.
Sementara itu, St. Bernard melanjutkan untuk berkhotbah di Burgundi, Lorraine, dan Flanders. Seperti pada Perang Salib Pertama, khotbah membuat serangan kepada orang Yahudi; seorang pendeta fanatik Jerman bernama Rudolf adalah orang yang membuat terjadinya pembantaian orang Yahudi di Cologne, Mainz, Worms, dan Speyer, dengan Rudolf mengklaim orang Yahudi tidak berkontribusi secara finansial untuk menolong tanah suci. St. Bernard dan uskup besar dari Cologne dan Mainz dengan hebat menentang penyerangan itu, dan juga St. Bernard mengunjungi dari Flanders ke Jerman untuk mengatasi masalah itu, dan juga St. Bernard meyakinkan para pendengar Rudolf untuk mengikutinya. Bernard lalu menemukan Rudolf di Mainz dan berhasil mendiamkannya, dan mengembalikannya ke biara.
Eleanor dari Aquitaine
Saat masih di Jerman, St. Bernard juga berkhotbah kepada Conrad III dari Jerman pada bulan November tahun 1146, tapi Conrad tidak tertarik untuk berpartisipasi, Bernard melanjutkan perjalanannya untuk berkhotbah di Jerman Selatan dan Swiss. Namun, dalam perjalanannya pulang pada bukan Desember, dia berhenti di Speyer, dimana, dalam kehadiran Conrad, dia mengantarkan khotbah emosional dimana dia mengambil peran Yesus dan bertanya apa yang akan dia lakukan untuk kaisar. Lalu Bernard berteriak "Orang!", "apa yang sebaikinya aku lakukan untukmu yang tidak pernah kulakukan?" Conrad tidak bisa melawan lagi dan bergabung dengan perang salib dengan banyak bangsawannya, termasuk Frederick II. Seperti di Kota Vézelay, banyak orang juga ikut perang salib di Jerman.
Paus juga memimpin perang salib di Spanyol, meskipun perang melawan orang Moor masih terjadi untuk beberapa waktu. Dia memberikan Alfonso VII dari Kastilia indulgensi yang sama ia berikan kepada tentara salib Perancis, dan seperti yang dilakukan Paus Urban II tahun 1095, membuat orang Spanyol untuk bertarung untuk teritorinya sendiri daripada bergabung dengan tentara salib. Dia memimpin Marseille, Pisa, Genoa, dan kota lainnya untuk bertarung di Spanyol, tapi bagaimanapun memaksa orang Italia, seperti Amadeus III dari Savoy untuk pergi ke timur. Eugenius tidak mau Conrad berpartisipasi, dan berharap bahwa dia akan memberikan bantuan kerajaan untuk klaimnya terhadap kepausan, tapi dia tidak melarangnya untuk pergi. Eugenius III juga memimpin sebuah tentara salib di Jerman untuk melawan Wend, yang adalah penganut pagan. Perang telah terjadi untuk beberapa waktu antara orang Jerman dan orang Wend, dan mengambil bujukan Bernard untuk mempersilahkan indulgensi diumumkan untuk Tentara Salib Wend. Ekspedisi ini tidak seperti tentara salib tradisional, ini adalah ekspansi melawan pagan daripada melawan orang Muslim, dan tidak dihubungkan dengan pertahanan tanah suci. Perang Salib Kedua melihat melihat perkembangan menarik dalam arena baru perjalanan perang salib.
Persiapan
Pada tanggal 16 Februari 1147, tentara salib Perancis mendiskusikan tentang rute penyerangan mereka nantinya. Mereka mendiskusikan hal itu di Kota Étampes. Orang Jerman telah memilih untuk berpetualang melewati Hongaria, dimana Roger II musuh dari Conrad dan jalur laut tidak dapat dijalankan. Banyak bagnsawan Perancis tidak percaya jalur darat, dimana akan membawa mereka ke kekaisaran Bizantium, reputasi masih menderita dari First Crusaders. Meskipun dipilih untuk mengikuti Conrad, dan untuk memulainya pada tanggal 15 Juni. Roger II melawan dan menolak untuk berpartisipasi. Di Perancis, Kepala Biara Suger dan Raja William dari Nevers dipilih sebagai pengawas selama Raja sedang pergi berpartisipasi dalam perang salib.
Di Jerman, khotbah lebih jauh dilakukan oleh Adam dari Ebrach, dan Otto dari Freising juga mengambil salib. Pada 13 Maret di Frankfurt, anak Conrad, Frederick IV dipilih sebagai raja, dibawah pengawasan Henry, Keuskupan Agung Mainz. Jerman berencana untuk maju pada bulan Mei dan bertemu orang Perancis di Konstantinopel. Selama pertemuan itu, pangeran Jerman yang lain memperluas ide perang salib kepada etnis Slavia yang tinggal di timur laut dari Kekaisaran Romawi Suci, dan dipimpin oleh Bernard untuk mengirim perang salib terhadap mereka. Pada 13 April, Eugenius mengkonfirmasi perang salib ini, membandingkan perang salib di Spanyol dan Palesitan. Dan pada tahun 1147, Perang Salib Wend juga muncul.
Alfonso I dari Portugis
Pada pertengahan bulan Mei, rombongan pertama mens/thumb/5/55/AfonsoI-P.jpg/180px-AfonsoI-Pninggalkan Inggris, terdiri dari orang Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman. Tidak ada pangeran atau raja memimpin bagian perang salib ini; Inggris pada saat itu di tengah-tengah anarkisme. Mereka tiba di Porto pada bulan Juni, dan diyakinkan oleh uskup untuk melanjutkan perjalanan menuju Lisboa, dimana Raja Alfonso telah pergi saat mendengar armada tentara salib menuju kesitu. Pengepungan Lisboa dimulai pada 1 Juli dan berakhir pada 24 Oktober saat kota itu jatuh ketangan tentara salib. Beberapa tentara salib bertahan di kota baru yang baru direbut, dan Gilbert dari Hastings dipilih sebagai uskup, tapi banyak armada melanjutkan ke timur pada Februari 1148. Hampir pada waktu yang sama, orang Spanyol dibawah Alfonso VII dari Kastilia dan Ramon Berenguer IV dan lainnya merebut Almería. Pada tahun 1148 dan 1149, mereka juga merebut Tortosa, Fraga, dan Lerida.
Keberangkatan Jerman
Tentara Salib Jerman, tediri dari Franconia, Bavaria, dan Swabia meninggalkan tanah mereka, juga pada Mei 1147. Ottokar III dari Styria bergabung dengan Conrad di Wina, dan musuh Conrad, Geza II dari Hongaria akhirnya membiarkan mereka lewat tanpa dilukai. Saat pasukan tiba di tertori Kekaisaran Bizantium, Manuel takut mereka akan menyerang Bizantium, dan pasukan Bizantium bertugas agar tidak ada masalah apapun. Ada pengepungan kecil dengan beberapa orang Jerman yang tidak mau menurut di dekat Philippopolis dan di Adrianopel, dimana Jendral Bizantium Prosouch bertarung dengan keponakan Conrad, yang nantinya akan menjadi kaisar, Frederick. Hal yang membuat semakin buruk adalah beberapa pasukan Jerman tewas karena banjir pada awal bulan September. Pada 10 September, mereka tiba di Konstantinopel, dimana relasi dengan Manuel kecil dan orang Jerman dipersilahkan untuk menyebrang menuju Asia Kecil secepat mungkin. Manuel mau Conrad meninggalkan beberapa pasukannya dibelakang, untuk membantunya bertahan melawan serangan dari Roger II, yang telah mengambil kesempatan untuk untuk merebut kota-kota di Yunani, tapi Conrad menolak, walaupun adalah musuh dari Roger.
Di Asia Kecil, Conrad memilih untuk tidak menunggu orang Perancis, dan maju menyerang Iconium, ibukota Kesultanan Rum. Conrad memisahkan pasukannya menjadi 2 divisi, 1 dihancurkan oleh Seljuk pada tanggal 25 Oktober 1147 pada Pertempuran Kedua Dorylaeum. Orang Turki Seljuk menggunakan taktiknya dalam berpura-pura mundur, lalu membalas menyerang pasukan kecil kavalri Jerman yang telah terpisah dari pasukan utama untuk mengejar mereka. Conrad mulau mundur ke Konstantinopel, dan pasukannya diganggu oleh Turki Seljuk, yang menyerang dan menaklukan penjaga depan. Bahkan Conrad terluka saat bertarung dengan mereka. Divisi yang lain, dipimpin oleh Otto dari Freising, maju ke selatan pantai Mediterania dan ditaklukan pada awal tahun 1148.
Keberangkatan Perancis
Tentara Salib Perancis berangkat dari Metz pada bulan Juni, dipimpin oleh Louis, Thierry dari Elsas, Renaut I dari Bar, Amadeus III dari Savoy dan saudaranya, William V dari Montferrat, William VII dari Auvergne, dan lain-lain, bersama dengan pasukan Lorraine, Bretagne, Burgundi, dan Aquitaine. Pasukan dari Provence, dipimpin oleh Alphonse dari Tolosa, memilih untuk menunggu sampai bulan Agustus. Di Worms, Louis bergabung dengan tentara salib dari Normandia dan Inggris. Mereka mengikuti rute Conrad dengan damai, meskipun Louis datang dalam konflik dengan Geza dari Hongaria sat Geza menemukan Louis telah mempersilahkan orang Hongaria untuk bergabung dengan pasukannya.
Relasi dengan Bizantium juga kecil, dan Lorrainer, yang telah maju, juga datang dengan konflik dengan orang Jerman yang perjalanannya lebih lambat. Sejak negosiasi awal diantara Louis dan Manuel, Manuel telah melaksanakan kampanye militer melawan Kesultanan Rüm, menandatangani gencatan senjata dengan Mas'ud. Ini telah dilakukan sehingga Manuel bebas mengkonsentrasikan pertahanan kekaisarannya dari tentara salib, yang telah mendapat reputasi untuk pencurian dan penghianatan sejak Perang Salib Pertama dan dituduh melakukan hal jahat di Konstantinopel. Relasi Manuel dengan pasukan Perancis lebih baik daripada dengan orang Jerman, dan Luis terhibur di Konstantinopel. Beberapa orang Perancis marah karena gencatan senjata Manuel dengan Seljuk dan melakukan penyerangan di Konstantinopel, tapi mereka dikendalikan oleh papal legate.
Saat pasukan dari Savoy, Auvergne, dan Montferrat bergabung dengan Louis di Konstantinopel, melewati Italia dan menyebrang dari Brindisi menuju Durres, seluruh pasukan perahu mereka menyebrangi Bosporus menuju Asia Kecil. Dalam tradisi yang dibuat oleh Kakek dari Manuel, Alexios I, Manuel menyuruh orang Perancis untuk mengembalikan teritori manapun yang direbutnya kepada Bizantium. Mereka disemangati oleh rumor bahwa orang Jerman telah merebut Iconium, tapi Manuel menolak memberi Louis satupun pasukan Bizantium. Bizantium baru saja diserang oleh Roger II dari Sisilia, dan semua pasukan Manuel diperlukan di Balkan. Baik Jerman dan Perancis memasuki Asia tanpa bantuan Bizantium, tidak seperti Perang Salib Pertama.
Orang Perancis bertemu sisa dari pasukan Conrad di Nicea, dan Conrad bergabung dengan pasukan Louis. Mereka mengikuti rute Otto dari Freising sepanjang pantai Mediterania, dan mereka tiba di Efesus pada bulan Desember, dimana mereka mempelajari kalau Turki Seljuk menyiapkan penyerangan untuk menyerang mereka. Manuel juga mengirim duta besar yang mengkomplain tentang menjarah dan merampas yang Louis lakukan disepanjang jalan, dan tidak ada tanggung jawab kalau Bizantium akan membantu mereka melawan Turki Seljuk. Setelah itu, Conrad jatuh sakit dan kembali ke Konstantinopel, dimana Manuel memeriksanya, dan Louis, tidak mendengarkan peringatan serangan Seljuk, maju keluar Efesus.
Seljuk menunggu menyerang, tapi dalam pertarungan kecil diluar Efesus, orang Perancis menang, Mereka mencapai Laodicea pada bulan Januari tahun 1148, hanya beberapa hari setelah pasukan Otto dari Freising dihancurkan di daerah yang sama. Melanjutkan serangan, barisan depan dibawah Amadeus dari Savoy terpisah dari sisa pasukan, dan pasukan Louis diikuti oleh orang Turki, yang tidak menyadarinya. Orang Turki tidak mengganggu dengan menyerang lebih jauh dan orang Perancis maju ke Adalia, yang telah dihancurkan dari jauh oleh Seljuk, yang juga telah membakar tanah untuk menghindari orang Perancis dari melengkapi makanannya, baik untuk diri mereka maupun untuk orang Perancis. Louis ingin untuk melanjutkan dengan tanah demi tanah, dan telah dipilih untuk mengumpulkan armada di Adalia dan berlabuh ke Antiokhia. Setelah terlambat selama 1 bulan karena badai, hampir semua kapal yang dijanjikan tidak tiba. Louis dan koleganya mengambil kapal untuk diri mereka sendiri, dimana sisa pasukan harus melanjutkan serangan jauh ke Antiokhia. Pasukan itu hampir dihancurkan seluruhnya, baik karena orang Turki maupun karena sakit.
Perjalanan menuju Yerusalem
Louis tiba di Antiokhia pada tanggal 19 Maret, setelah terlambat karena badai; Amadeus dari Savoy tewas di Siprus selama perjalanan. Louis disambut oleh paman dari Eleanor, Raymond. Raymond mengharapkannya membantunya bertahan melawan Seljuk dan menemaninya dalam ekspedisi melawan Aleppo, tapi Louis menolak, dia lebih memilih untuk memasuki Yerusalem daripada fokus dalam aspek militer. Eleanor menikmatinya, tapi pamannya mau dia tetap disitu dan menceraikan Louis jika dia menolak membantunya. Louis segera meninggalkan Antiokhia dan pergi ke Kerajaan Tripoli. Setelah itu, Otto dari Freising dan sisa pasukannya tiba di Jerusalam pada awal April, setelah itu Conrad segera sampai, dan Fulk, Patriarch dari Yerusalem, dikirim untuk mengundang Louis bergabung dengan mereka. Armada yang berhenti di Lisboa tiba pada saat ini, dan juga orang Provencals dibawah Aphonse dari Tolosa. Alphonse sendiri telah tewas dalam perjalanan menuju Yerusalem, diracuni oleh Raymond II dari Tripoli, keponakannya yang takut akan aspirasi politiknya di Tripoli.
Dewan Akko
Di Yerusalem, fokus perang salib berubah di Damaskus, target yang diincar oleh Raja Baldwin III dan Ksatria Templar. Conrad didesak untuk mengambil bagian dalam ekspedisi ini. Saat Louis tiba, Haute Cour bertemu di Akko pada tanggal 24 Juni. Ini adalah pertemuan paling spektakular dari Cour dalam keberadaannya: Conrad, Otto, Henry II dari Austria, Frederick I, dan William V dari Montferrat mewakili Kekaisaran Romawi Suci; Louis, Bertrand anak dari Alphonse, Thierry dari Elsas, dan raja lainnya mewakili Perancis; dan dari Yerusalem, Raja Baldwin, Ratu Melisende, Patriarch Fulk, Robert dari Craon, Raymond du Puy de Provence, Manasses dari Hierges, Humphrey II dari Toron, Philip dari Milly, dan Barisan dari Ibelin. Catatan, tidak ada yang datang dari Antiokhia, Tripoli, ataupun dari Edessa datang. Beberapa orang Perancis menyadari kalau kewajiban mereka terpenuhi, dan mau pulang; beberapa bangsawan Yerusalem menunjuk bahwa tidak bijaksana untuk menyerang Damaskus, sekutu mereka melawan Dinasti Zengid. Conrad, Louis, dan Baldwin berisikeras, dan pada bulan Juli, pasukan itu bersiap di Tiberias.
Pertempuran Damaskus
Tentara Salib memilih untuk menyerang Damaskus dari timur, dimana kebun akan memberi mereka makanan konstan. Mereka tiba pada tanggal 23 Juli, dengan pasukan Yerusalem di garis depan, diikuti dengan Louis dan lalu Conrad sebagai penjaga belakang. Orang Muslim berisap untuk serangan dan langsung menyerang pasukan yang maju menuju perkebunan. Pasukan Salib mampu melawan mereka dan mengejar mereka kembali ke Sungai Barada dan menuju Damaskus; setelah tiba diluar tembok kota, mereka langsung menyerang Damaskus. Damaskus telah meminta bantuan dari Saifuddin Ghazi I dari Aleppo dan Nuruddin dari Mosul, dan vizier, Mu'inuddin Unur, memimpin serangan yang tidak berhasil pada kemah pasukan salib. Ada konflik pada kedua kemah: Unur tidak mempercayai Saifuddin atau Nuruddin dari menguasai seluruh kota jika mereka menawarkan bantuan; dan pasukan salib tidak setuju siapa yang akan mendapatkan kota jika mereka merebutnya. Pada 27 Juli, pasukan salib memilih untuk bergerak ke bagian timur kota, yang lebih sedikit pertahanannya, tetapi memiliki sedikit persediaan makanan dari air. Nuruddin telah tiba dan tidak mungkin untuk kembali ke posisi mereka yang terbaik. Pertama Conrad, lalu sisa dari pasukan, memilih untuk mundur ke Yerusalem.
Akibat
Semua sisi merasa dikhianati oleh yang lain. Rencana lain baru dibuat untuk menyerang Ascalon, dan Conrad membawa pasukannya kesana, tapi tidak ada bantuan tiba, karena tidak ada kepercayaan karena kegagalan serangan Damaskus. Ekspedisi Ascalon ditinggalkan, dan Conrad kembali ke Konstantinopel, dimana Louis tetap berada di Yerusalem sampai tahun 1149. Kembali ke Eropa, Bernard dari Clairvaux juga dipermalukan, dan ketika dia hendak memanggil perang salib yang gagal, dia mencoba memisahkan dirinya dari fiasco perang salib kedua. Dia meninggal pada tahun 1153.
Serangan Damaskus membawa malapetaka kepada Yerusalem: Damaskus tidak lagi percaya kepada Kerajaan Tentara Salib, dan Kota itu diambil oleh Nuruddin pada tahun 1154. Baldwin III akhirnya mengepung Ascalon pada tahun 1153, dimana membawa Mesir kedalam konflik ini. Yerusalem mampu membuat kemajuan memasuki Mesir, dengan singkat merebut Kairo pada tahun 1160. Namun, relasi dengan Kekaisaran Bizantium dicampur, dan bantuan dari barat jarang setelah bencana dari perang salib kedua. Raja Amalric I dari Yerusalem bersekutu dengan Bizantium dan berpartisipasi dalam invasi Mesir tahun 1169, tapi ekspedisi ini gagal. Pada tahun 1171, Saladin, keponakan dari salah satu jendarl Nuruddin, menjadi Sultan Mesir, mempersatukan Mesir dan Siria dan mengepung kerajaan tentara Salib. Setelah itu, aliansi dengan Bizantium berakhir dengan kematian kaisar Manuel I pada tahun 1180, dan pada tahun 1187, Yerusalem diserang dan direbut oleh Saladin. Pasukannya lalu menyebar ke utara dan merebut semua ibukota dari semua daerah yang direbut tentara salib, menyulut terjadinya Perang Salib Ketiga.
Perang Salib ke3
Tahun 1180 kaisar Manuel Byzantium meninggal.
Saladin mulai mengatur penyerangan pada kerajaan Latin Yerusalem melalui pengepungan dari berbagai penjuru. Ketika Saladin menggerakkan pasukan gabungan Islam dari berbagai negara untuk berjihad merebut Yerusalem dan mengusir bangsa Frank. Kesabaran adalah benteng pertahanan yang paling kokoh untuk mempertahankan apa yang dijanjikan Tuhan bahkan yang sudh Tuhan berikan pada kita. Dalam kisah perang salib ke 2 dan ke 3, Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Islam, karena raja Yerusalem kurang sabar menanti waktu musim semi. Saat itu musim panas di Israel sangatlah panas, dan raja Yerusalem yang gegabah dan temperamen terpancing untuk diajak berperang. Tempat tanduk Hattin menjadi saksi sejarah yang bisu, bagaimana pasukan salib hancur hanya karena kekurang sabaran dari rajanya. Saladin meminta bantuan semua rakyat Muslim untuk membantu berperang dan saat itu adalah musim panas bulan Juli. Nasehat pada raja Yerusalem agar menanti sedikit waktu lagi menanti datangnya musim hujan, di mana umat muslim akan pulang untuk bercocok tanam, tidak digubris. Kekurang sabaran membuat ia mengambil keputusan salah dan harus dibayar mahal dan MERUBAH SEJARAH telah berubah menjadi kelam bagi paus, bahkan ia meninggal ketika mendengar kejatuhan Yerusalem bulan Oktober (3 bulan setelah kekalahan pasukan Yerusalem di Tanduk Hattin) yang terletak di atas kota Tiberias dan sebelum Nazaret.4 Juli 1187 pasukan salib Yerusalem yang dipimpin raja Guy dari Lusignan (menantu Baldwin III) dikalahkan di Tanduk Hattin, karena kehausan. Raja Guy dari Lusignan yang baru menjabat jadi raja, mengalami kekalahan karena hanya mengandalkan keberanian, tanpa siasat, ketika ia dinasehati agar jangan bertempur karena akan kekurangan air, ia tidak mau mendengarkan nasehat. Ada pula nasehat padanya agar jangan berperang dahulu, sebab pasukan Saladin sebagian besar dibantu oleh para petani dari berbagai daerah Muslim, sehingga perlunya menunda peperangan sampai musim semi di mana para petani akan pulang untuk memanen hasil pertaniannya, namun tidak dihiraukannya. Saladin membawa pasukan dari mesir dan meminta bantuan pasukan dari Suriah dibawah pimpinan anaknya sendiri. Saladin merebut kota Tiberias dekat Galilea untuk memancing pasukan salib meningalkan bentengnya, namun siasat ini tidak berhasil, Akhirnya Saladin menyerang dengan pasukan gabungan dari berbagai tempat Muslim yang berkumpul di daerah dekat pertahanan pasukan salib tepatnya di perkampungan Tanduk Hattin (Al Tall/nama Arab), maka Juli 1187 terjadilah perang di Hatin/Hittin, perbukitan yang dekat dengan Nazareth dan Tiberias, di mana posisi Saladin membelakangi Galilea dan diuntungkan karena ada persediaan air. Pasukan salib mundur ke belakang dekat Hatin, karena kesulitan air dan kecapaian (bukit yang modelnya seperti tanduk). Namun karena kurang strategi maka Guy of Lusignan yang temperamen dan tidak mau mendengar nasehat, harus dibayar mahal. Setelah beberapa kali pasukan Saladdin berhasil diusir mundur ke belakang, akhirnya Saladin membakar semua lalng dan rumput liar, karena bulan itu adalah musim panasterik, sehingga pasukan salib kepanasan dan kesulitan untuk berperang dengan pakaian besi. Kekalahan pasukan salib ditentukan dengan hancurnya pasukan tank (800 pasukan Templair kuda yang berjejer dan terkenal sangat ganas dan berani mati serta ahli berperang), Saladin melihat pasukan ini sangat terkejut dan memerintahkan tidak boleh menghadapi secara frontal, namun harus mundur dan membuka barisan ke kiri dan kanan sehingpa pasukan Templair ini terkepung di tengah. Walaupun mengalami kekalahan, namun jumlah korban di pihak Saladin cukup banyak dan Saladin memerintahkan untuk menccang pasukan Templair jika tidak mau menyerah dan menjadi Muslim. Banyak pasukan Templair yang harus mati tercincang walaupun sudah tertawan, karena Saladin ngeri akan keganasan dan keberanian pasukan Templair tersebut. Pasukan Templair adalah inti pasukan dan memang ditugasi untuk menjadi penjaga makam Suci, dan akhirnya pertahanan pasukan salib direbut oleh pasukan Saladin. Dan yang lebih penting kayu salib besar yang diyakini pernah dipakaikan pada Yesus juga direbut. Pasukan salib dan raja Guy beserta sebagian besar pasukannya berhasil ditawan. Pasukan salib dibantai dengan mudahnya dan raja Guy dipermalukan ditawari air minum dengan es oleh Saladin asal mau sujud padanya. Acre/Akko sebelumnya yang sudah direbut oleh Saladin yang berfungsi untuk menjaga pantai dan pelabuhan agar bantuan dari Eropah yang mau membantu Yerusalem bisa dihalangi dan diusir pulang. Setelah mengalahkan Acre/Akka/Akko direbut dan dijarah, kemudian mengalahkan pasukan salib di Hatin, Saladin takut untuk langsung menuju ke Yerusalem, melainkan memakai jalan putar dan menyusuri sungai Yordan untuk menjaga persediaan air pasukannya. Saladin merebut beberapa benteng kecil penjaga daerah dan lalu lintas para peziarah yakni di Nasher, Kaisarea, Haifa dan Shafariyah. Kemudian Saladin bergerak ke Utara dan berhasil menduduki Sidon dan Beirut semuanya dilakukan dalam waktu hanya 1 bulan, karena Saladin takut akan bantuan dari Eropah datang. Setelah itu Saladin memerintahkan sebagian pasukannya melalui jalur darat ke Askelon (dekat Gaza/daerah Filistin dahulu) juga melalui laut untuk merebut pelabuhan di Palestina, dan Saladin memerintahkan Hisyamuddin Lu’lu al-Hajib komandan laut. Dan memerintahkan armada laut Mesir untuk menjaga laut dan mengusir pasukan salib tambahan yang dari Eropah ke Palestina. Awal bulan September pasukan Saladin sudah berdatangan dan mengepung Yerusalem dan selama beberapa hari Yerusalem berhasil mempertahankan diri bahkan banyak pasukan Saladin yang terbunuh. Balian dari Ibalin (1140-1193) dan isteri Guy of Lusignan yaitu adik dari raja Baldwin IV memimpin orang sipil untuk mempertahankan Yerusalem dari tangan Muslim. Ancaman Saladin untuk membalas dendam kematian umat Muslim yang pernah dibunuh oleh pasukan salib ketika mereka merebut Yerusalem 15 Juli 1099. Setelah mengalami kesulitan maka Saladin menerima tawaran damai dengan membiarkan orang-orang Yerusalem pergi tanpa gangguan dan sebaliknya Yerusalem diserahkan oleh Balian dari Ibalin. 2 Oktober 1187 Yerusalem jatuh ditangan Muslim, lahirlah perang salib ke 3 yang dipimpin oleh ke tiga raja dari Eropah salah satunya Richard (Lion Heart dari Inggris).
Perang salib ke 3 (1189-1192)
Tgl 2 Oktober 1187 Yerusalem berhasil direbut oleh Saladin. Pasukan salib hanya tersisa beberapa daerah dan kerajaan kecil seperti Tirus dan yang lainnya. Berita kejatuhan Yerusalem sampai pada paus dan ia meninggal karena terkejut. Sebab musabab Yerusalem jatuh ke tangan Saladin (Turki Seljuk/dinasti Ayyubiah). Kaisar Byzantium Manuel menikahi putri dari bangsa Frank, dan membujuk agar bangsa Frank mau tinggal di Byzantium, dengan tujuan agar negaranya kuat. Kemudian Manuel menyerang sepihak Turki Seljuk dan membatalkan perjanjian damai. Tahun 1160 Byzantium mengalami kemajuan yang pesat dan tahun 1171 maka Byzantium berperang dengan Venetia karena perebutan niaga laut, sebelumnya angkatan laut Venetia selalu mengawal armada niaga Byzantium. Tahun 1174 Saladin berhasil menghancurkan tentara Byzantium di Myriokefalon, tahun 1180 Manuel meninggal dan tahun 1182 terjadi kerusuhan di Konstantinopel kaum ortodoks mengusir dan membunuh orang-orang Frank (10.000) di Konstantinopel. Tahun 1183 Hungaria menyerang semenanjung Balkan dan tahun 1185 Sisilia menyerang Yunani, tepat tahun 1187 Byzantium bangkrut dan kehilangan angkatan lautnya. Kesempatan dalam kekacauan dan kelemahan karena pertikaian antar sesama Kristen tidak disia-siakan oleh Saladin untuk menyerang kerajaan Latin Yerusalem. Kejatuhan Yerusalem membuat paus Innecetius menyerukan para pemimpin Eropah untuk berupaya merebut kembali tanah suci dari umat Islam. Paus Gregory VIII bersama kaisar Roma Frederick I (Barbarossa), kaisar Inggris Richard (Lion Heart/berhati singa), dan raja Perancis Philip II (Augustus) berangkat bersama-sama dalam perang salib ke III. Kaisar Frederick Barbarossa mati lemas karena tenggelam di sungai Saleph (Turki/Asia kecil) maka para pasukannya pulang kembali ke Eropah. Dengan susah payah Acre berhasil direbut (1191) dan berhasil memerangi beberapa pertempuran kecil.
Sedangkan kaisar Richard dan Philip selalu bertengkar di tengah jalan, maka hasilnya kaisar Philip pun pulang kembali ke Eropah. Richard si Lion Heart sangat ditakuti karena keberaniannya dan keberhasilannya untuk merebut daerah-daerah kecil Saladin, sehingga Saladin mengusulkan perdamaian dan Saladin mengusulkan agar Richard menikahi adiknya, dan akan diberikan Palestina sebagai hadiah perkawinan mereka, ini suatu usul yang menggoncangkan bangsa Eropah. Tahun 1192 terjadi gencatan senjata dan Saladin memperbolehkan para peziarah ke tanah suci dan orang Frank diberikan sebagian pelabuhan untuk berniaga laut. Setahun kemudian Saladin meninggal, Cyprus yang dikuasai oleh Byzantium (Kristen melawan Kristen) berhasil direbut oleh pasukan salib ke III.
Amsal 16:32, menuliskan bahwa seorang yang sabar melebihi seorang pahlawan dan yang menguasai dirinya melebihi dari orang yang merebut kota, kegagalan bukan hanya terletak minimnya prasarana, pasukan namun juga belajar untuk sabar dan menguasai diri sendiri. Bagaimana ke tiga raja yang sangat kuat dan pemberani bisa mengalami kegagalan, bahkan kaisar Richard pulang dan terdampar oleh badai sehingga harus melintasi Austria, karena bermusuhan dengan Austria maka Richard diculik dan diminta tebusan.
Semua berpulang pada kesabaran, penguasaan diri, kesatuan dan kerendahan hati ketika merasa kuat.
Pandangan Islam terhadap Richard berhati Singa adalah seorang yang berani, cerdas, ulet dan mempunyai kesadaran tinggi, berkemampuan untuk mengambil keputusan. Richard adalah seorang yang membuat umat Muslim benar-benar diuji dengan bencana yang tidak terduga, dan setiap kedatangannya menimbulkan ketakutan dan kecemasan di dalam hati kaum Muslim.
Catatan tentang munculnya Saladin (Salahuddin) pendiri dinasti Ayyubiyah.
Dinasti Fatiyah Mesir dengan kekuasaanya dari mesir, Persia sampai ke Syria kerap meminta pertolongan pada pasukan salib dengan membayar upeti untuk menyelamatkan daerah mereka dari serbuan Seljuk. Mesir yang dikuasai oleh dinasti Fatimiyah (Syiah) mempertahankan Islam Syiah dari Turki Seljuk yang Sunni. Kesempatan bagi Nuruddin (Seljuk Syria) ketika seorang mantan penguasa Qush yang membangkang, sehingga ketika dicopot oleh Ruzaik (PM Mesir karena Khalifah Mesir masih berumur 9 tahun). Maka Syawar memberontak dan merebut Mesir serta membunuh Ruzaik (1163). Dhirgham panglima Ruzaik yang telah meninggal merebut kembali Mesir dari tangan Syawar, maka Syawar mengkhianati dinasti Famiyah (Syiah) yang di Mesir meminta bantuan Seljuk Islam Sunni yang merupakan musuh besar untuk merebut Mesir bagi dirinya (Seljuk Mosul yang sudah pindah ke Syria). Maka Fatimiyah Mesir meminta bantuan pasukan salib di Yerusalem untuk mempertahankan dinasti mereka dari tangan Syawar dan Turki Seljuk. Nuruddin mengutus pasukan besar dari seluruh Turki yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh dan keponakannya Saladin al-Ayyubi (anak dari Najmuddin Ayyub saudara dari Asaduddin Syirkuh) dan berhasil mengalahkan Dirgham dan merebut Mesir (Kairo) Syawarpun berkuasa (1163) dan Syawar akhirnya berkhianat pada Nuruddin dan Asaduddin Syirkuh, maka Seljuk Syria memerintahkan Saladin untuk menjatuhkan Syawar dari Mesir, namun Syawar meminta bantuan pada pasukan salib yang di Yerusalem yaitu raja Almaric I. Daerah Balbis dan Timur Mesir sudah diserang dan direbut oleh Saladin. Tahun 1164 Almaric I masuk ke Mesir melalui laut untuk membantu Mesir mempertahankan dirinya dari Turki Seljuk. Pasukan Syirkuh dan Saladin terdesak di Balbis dan meminta perdamaian. Alasan Nuruddin untuk merebut Mesir sebenarnya karena ingin menjadikan dinasti Seljuk yang bernuansa Sunni, sekaligus ingin membalaskan sakit hatinya pada Syawar yang pernah ditolongnya, namun oleh Nuruddin dijadikan alasan sampai sekarang dicatat oleh sejarah untuk menyelamatkan Mesir dari tangan pasukan salib. Tahun 1167 Nuruddin mengutus Syirkuh dan Saladin dengan persiapan matang dan melihat situasi Mesir dalam keadaan goncang sehabis perang. Tahun 1167 Pasukan Syirkuh dan Saladin tiba di Mesir bersamaan raja Almaric I masuk ke Mesir kembali melalui jalur laut (Fusthath atas permintaan Syawar). Syawar memberikan 200.000 keping emas kepada Almaric I sebagai upah untuk berperang dan mengamankan Mesir dari tangan Seljuk dan 200.000 keping emas lagi setelah Seljuk diusir dari Mesir. Di Shoid dan Iskandariah (Alexandria) terjadi peperangan antara Syirkuh dan Saladin dengan Almaric I, dan akhirnya Syirkuh dan Saladin terdesak dan berdamai kembali dan pulang ke Syria, dan Almaric I kembali ke Yerusalem. Beredar fitnah di Syria dan daerah lainnya bahwa Seljuk Syria harus merebut Mesir agar menyelamatkan dari tangan Almaric I yaitu pasukan salib (sebagaimana yang pernah terjadi di Kuwait (abad ke 20 yaitu tahun 1980 an). Amerika merebut Afghanistan dari tangan Taliban yang bengis yang mengkhianati Massoud bekas teman seperjuangan melawan Rusia yang dibantu Amerika. Taliban dan Al Qaedah yang dibantu Amerika dan dididik dan dibiayai olehnya untuk mengusir Rusia dari Afghanistan setelah berhasil, namun September 2001 mereka terlibat pemboman WTC di New York dengan alasan Israel dibantu oleh Amerika. Amerika merebut Irak dari tangan Saddam Husein yang tiran, dan memberikan kekuasaan pada rakyat khususnya Syiah, Kurdi dan Sunni berdasarkan populasi masing-masing, maka Amerika dan sekutunya difitnah yang sama. Tahun 1169 Seljuk Syria dipimpin oleh Syrkuh dan Saladin secara tiba-tiba dan mengingkari janji mereka merebut Mesir, kemudian Syirkuh meninggal 2 bulan setelah merebut Mesir dan Saladin sebagai penggantinya. Saladin dicopot oleh Khalifah Mesir baru Al-‘Adhid dari dinasti Fatimiyah yang terakhir. Namun Saladin menolaknya dan Al-‘Adhid meminta bantuan para kerabatnya untuk mempertahankan Mesir, namun Saladin merebut Mesir dan membubarkan dinati Fatimiyah dan menjadikannya Seljuk (dinasti Abbasiyah di bawah gubernuran Seljuk Syria).
Kemudian Saladin bersaing dengan Nuruddin dan bermusuhan, sehingga Nuruddin menyusun kekuatan untuk berperang dengan Saladin, namun Sultan Nuruddin meninggal tahun 1174, kemudian digantikan anaknya yang masih muda (7 tahun) As-Salih Ismail al-Malik, ia memerintah hanya beberapa tahun saja. Dan selama 2 tahun Saladin terus menerus menyerang Aleppo (Seljuk Syria anak dari tuannya Nuruddin yang mati). Akhirnya Saladin berhasil mengalahkan Seljuk Syria dan mendirikan dinasti Ayyubiyah. Sebenarnya Saladin menyerang kerajaan Kristen bukan karena para peziarah Islam yang berhaji terganggu, namun ia sudah merencanakan sejak awal untuk mendirikan dinasti Ayyubiyah dari Mesir sampai Syria.
Perang Salib IV (1202–1204)
Pada masa Paus Innocent III, gereja tetap mengobarkan kembali perang Salib. Dalam hal semangat dan kepemimpinan, perang ini bercorak Prancis seperti Perang Salib I. Target perang ini diarahkan ke Mesir, dengan pertimbangan: (1) kekuatan Islam sudah beralih ke Mesir, karena itu Mesir harus dikuasai dulu; (2) penaklukan Mesir akan membawa keuntungan perdagangan untuk para pedagang Italia–jika langsung menguasai Jerusalem, orang Mesir akan melakukan tindakan pembalasan terhadap para pedagang di Delta Nil, Dimyat, dan Alexanderia.
Ketika tentara Salib di Venice (1202) bersiap hendak menuju Mesir, tiba-tiba semua pasukan diperintahkan untuk menyerang Konstantinopel pada bulan Juli 1203, dan merebutnya pada bulan April 1204. Setelah itu, Baldwin VII diangkat sebagai Emperor Latin I di Konstantinopel. Kekuatan ini berkuasa selama 60 tahun.
Perang Salib V (1218–1221)
Perang Salib ini merupakan lanjutan Perang Salib I dan IV, dengan sasaran utamanya Mesir. Saat itu Mesir berada di bawah Pemerintahan Al-Malik al-’Adil, yang meninggal dunia (1218) setelah tentara Salib menguasai menara Al-Silsilah. Al-Malik kemudian digantikan oleh putranya Al-Malik al-Kamil (1218–1238).
Al-Malik al-kamil menghadapi gangguan dari dalam, yaitu konspirasi yang dipimpin oleh seorang panglima yang berasal dari Kurdi, Ibn Masytub, yang hendak menyisihkannya. Ia lalu melarikan diri ke Yaman. Namun Karena bantuan adiknya, Al-Malik Mu’azzam dari syam, ia bisa kembali menduduki tahta kesultanan Mesir. Tantangan dari luar–selain dari tentara Salib–adalah tentara Mongol yang mulai menguasai dunia Islam bagian Timur, Khawarizami, negeri-negeri Transoxiana, dan sebagian negeri Persia pada tahun 1220. Serangan Mongol ke Baghdad pun dimulai.
Kedudukan tentara Salib sebenarnya baik karena banyaknya rombongan besar menggabungkan diri atas seruan Paus Innocent III yang dilanjutkan oleh Paus Honorius III. Raja Juhanna de Brienne dan Wakil Paus, Plagius, memimpin pasukan ini. Dimyat bisa segera mereka kuasai pada tahun 1218. Namun, serangan belum dilanjutkan menuju Kairo karena menunggu bantuan Frederik II dalam perajalanan untuk menopang serangan selanjutnya.
Karena situasi yang mencekam, sebagaimana digambarkan di atas, ditambah situasi ekonomi yang sulit, terutama karena surutnya sungai Nil, Mesir diancam bahaya kelaparan. Al-Kamil pun mengajukan permintaan perdamaian. Ia mengajukan tawaran menyerahkan Jerusalem dan hampir semua kota yang ditaklukan Shalahudin kepada pihak Salib asalkan mereka (pihak Salib) menarik diri dari Dimyat. Tawaran yang begitu menguntungkan pihak Salib itu ditolak, bahkan mereka akan menguasai seluruh Mesir dan Syam. Penolakan ini terutama dikemukakan oleh utusan Paus, Pelagius, yang ditopang oleh Italia, karena kepentingan perdagangannya terancam di Mesir. Tidak ada pilihan bagi Al-Kamil: hancur atau menang. Timbullah ide yang kemudian dilaksanakannya, yaitu menghancurkan dam-dam irigasi yang menuju Dimyat. Akhirnya banjir pun melanda seluruh Dimyat. Banyak tentara Salib yang tenggelam. Mereka terancam bahaya kelaparan. Karena bantuan Frederik II yang diharapkan tak kunjung datang, tentara Salib pun meninggalkan Dimyat tanpa syarat.
Referensi:
banyak banget males sebutin 1-1 ada yg dari forum de el el
No comments:
Post a Comment